Diberdayakan oleh Blogger.

KISAH MENAKJUBKAN: Pahala Shadaqah Penerangan dan Makanan kepada Para Jamaah Shalat yang Disegerakan

Rabu, 25 Maret 2015

KISAH SEORANG AYAH.
suara tauhid
Selasa, 19 Jumadal Ula 1436/ 9 Maret 2015

Kisah yang akan kami ceritakan ini adalah kisah yang diceritakan oleh Ustadz Mukhtar la ferlaz hafizhahullah..

Beliau bercerita:

Dahulu di Yaman..
Ada seorang lelaki paruh baya yang rajin melaksanakan sholat berjamaah di masjid walaupun rumahnya jauh dari masjid..

Di kala itu belum ada penerangan listrik.. jadi penduduk masih menggunakan pelita sebagai penerang dalam gelapnya malam.

Orang itu berangkat di waktu maghrib dengan membawa pelita dan makanan bersamanya..

Pelitanya ia gunakan untuk menerangi jalannya dan sebagai penerangan dimasjid, adapun makanan yang dia bawa sebagai santapan malamnya bersama orang yang sholat bersamanya.

Hal ini terus dilakukannya dan menjadi kebiasaannya untuk berbuat derma..

Suatu saat..
Dia dan anak-anaknya membutuhkan air untuk mengairi ladang mereka..
Akhirnya merekapun bersama-sama menggali sebuah sumur..

Ayahnya di bagian dalam untuk menggali, dan anak-anaknya berada diatas untuk membuang tanahnya..

Pacul terus beradu dengan tanah...
Lubang terus di gali..
Semakin dalam...
Dan semakin dalam..

Tiba- tiba...
Tanah diatasnya amblas...
Tiba-tiba tanah diatasnya runtuh dan menimbun sang ayah..

Hingga akhirnya iapun tertimbun di dalam tanah yang dia tengah ia gali...

Anak-anaknya pun berusaha untuk menggali..
Mereka terus menggali, dan bertekad untuk dapat mengeluarkan ayah tercinta dari runtuhan tanah yang menimbunnya..

Namun sayang!
Usaha mereka tidak mendapatkan hasil...

Mereka sedih, karena sang ayah terkubur hidup-hidup didalam sumur itu...
Dan merekapun menyerahkan perkaranya kepada Allah..

Mereka pasrah dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah..

Tak terasa setahun telah berlalu...
Dua..
Tiga...
Empat..
Sampai enam tahun berlalu..

Ladang menjadi luas, dan butuh banyak air untuk pengairan..
Akhirnya merekapun berembuk untuk menggali sumur.

Namun dimana lagi tempat yang pas untuk mendapatkan air....
Merekapun bermusyawarah.. berembuk...
Akhirnya tidak mereka temukan tempat yang pas selain tempat yang dulu, dimana ayah tercinta terkubur dan terpendam didalamnya...

Apa yang harus diperbuat..??
Apakah mereka tetap harus menggali, atau tidak..??!
Sementara tanaman dan ladang butuh untuk di airi.

Biar ga lama penasarannya...
Kita lanjut ceritanya...

Merekapun bingung...
Disatu sisi mereka menganggap itu sebagai kubur sang ayah..
Disisi lain, mereka butuh tempat itu..
Mereka butuh sumur itu sebagai sumber air bagi ladang mereka...

Dan keputusan pun dipilih..
Dengan berat hati, mereka tetapkan ...
Akan menjadikan (tempat)nya sebagai sumur...

Sedianya lubang tetap akan digali kembali...
Kembali mereka menggali..
Kembali pacul beradu...
Tepat pada tempat dimana dulu ayahnya terkubur...

Dan sebuah kejadian mencengangkan terjadi..

Kejadian luar biasa yang menunjukkan rahasia ilahi..

Kejadian yang tidak mungkin bagi kita, bahkan bagi anak-anaknya untuk membayangkan dan menduga sebelumnya..

Apa itu??!
Betul-betul mencengangkan dan membuat mata tak mau berkedip..!!

Apa yang mereka temukan di dasar sumur itu..?!
Apa???!!

Sebuah jasad...

...

Tepatnya seorang tua yang masih bernyawa di dalam sumur!!!

Bernyawa???!!

Na'am, bernyawa..

Ada orang hidup di dlam lubang itu...
Na'am, shahih!!

Ternyata sang ayah tercinta masih hidup..
Masih bernyawa...
Enam tahun.. Selama itukah??!!

Apa ini benar dan mungkin??!!

Jawabnya: "Apa yang tak mungkin bagi Allah..?!"

Na'am, Ia benar-benar hidup..

Dengan rambut dan kuku yang panjang, sang ayah masih hidup didalam lubang selama enam tahun
Allahu akbar!!

"Idza qodhollahu bi amrin faqola lahu kun fayakun.."

Rahasia ilahi...

Penasaran ya??

Afwan ya sengaja..
Kita lanjutkan lagi...

Merekapun mengambil dan mengangkat ayahnya ke atas...

Walau dengan tampilan seperti itu...
Walau waktu yang lama...
Mereka masih mengenal...
Itu ayah ku..!!

Na'am.. Itu Ayah kami..

Selepas beberapa waktu, mereka menanyakan perihal yang terjadi..

Perkara yang tidak masul akal ini..
Rahasia dari keanehan ini....

Bagaimana bisa sang ayah dapat bertahan didalam perut bumi, dalam waktu yang lama?
Tanpa makan dan minum,
Tanpa bergerak ...
Tanpa berganti busana
Atau mandi sekalipun...

Oh sulit dinalar oleh akal ini...
Enam tahun....
Ayah... Bisakah ayah ceritakan tentang kejadian ini?!
Tanya anak-anaknya kepada sang ayah....

Sang ayahpun mulai mengisahkan...

Ketika ayah tertimbun di dalam tanah..
Terkubur didalam lubang itu....

Alhamdulillah ada lubang atau celah yang menjadi sebab ayah bisa bertahan hidup di dalamnya...
Anak-anak nya terus mendengarkan dengan seksama...
Dan sang ayahpun terus mengisahkan...

Dengan "goa" itulah ayah tidak tertimbun dan tidak menjadi mayat di kala itu..

Lantas dari mana bisa bertahan selama ini?
Enam tahun, bukanlah waktu yang singkat...

Na'am..
Ayah hidup didalamnya selama itu.. tatkala gelap datang seseorang dengan membawa pelita dan makanan...

Dan ayah tak tahu siapa dia...
Terus dan terus seperti itu...

Ada cahaya yang menghampiri...
Menemani dalam kesendirian
Menerangi dalam kegelapan...
Begitupun makanan..

Siap santap disaat lapar...
Terus menerus selama enam tahun..
MasyaAllah..

Sang Ayahpun mengingatkan.. mungkin ini merupakan pahala yang Allah segerakan dari apa yang ayah lakukan..
Dengan membawa pelita untuk menerangi orang sholat..
Dan memberi makan mereka yang sholat di masjid... MasyaAllah...

Dan memang benar..
Ketika mereka menemukan sang ayah di dalam lubang itu, ayahnya dalam keadaan bugar dan gemuk..
Tak ada tanda lemas ataupun kurus karena tak makan..

Dan iapun tetap bisa bertahan hidup dalam perut bumi selama enam tahun..
MasyaAllah Allahu Akbar..
Wallah 'ala kulli sya'in qodiir..
............................

Saudaraku, beramallah...
Bershodaqohlah...

Tidak akan rugi sedikitpun, apa yang telah antum keluarkan dijalan Allah..

Bisa jadi Allah membalas amalmu didunia dengan balasan yang disegerakan, atau di akhirat dengan jannah...

Catatan:
Kisah ini terjadi di propinsi Baidho' -yaman.
Sebagaimana dinyatakan sebagian ikhwah...
Ada yang menyatakan 6 thn, ada juga 7 thn, bahkan lbh dari itu...

Namun pastinya kisah ini ma'ruf dan benar-benar terjadi...

Ambillah pelajaran penting yang tersirat didalamnya...

Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah Ta'ala agar senantiasa kokoh diatas Sunnah. Dan Semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam.
______________________
(Sumber: Postingan al akh Rana Abdulloh di forward dari koordinator 1 forum KIS 3
via Whatsapp ITS2)

(Pesan ini disebarluaskan oleh BB Dakwah Ahlussunnah)
www.forumdakwahahlussunnah.com

Read More.. Read more...

Download Audio Pelajaran Tajwid untuk Pemula

Sabtu, 07 Maret 2015


Audio Pelajaran TAJWID untuk PEMULA

☀ bersama al-Ustadz Ulum hafizhahullah

 © Radio | Manhajul Anbiya

�� :: Unduh pada link-link berikut :

Ⓜ Tajwid 42
• 3,98MB durasi (34:47)
�� https://copy.com/3mlzb9HZg62ZWcaF?download=1

Ⓜ Tajwid 43
• 4,14 MB durasi (36:07)
�� https://copy.com/EI2xZtLkQeNygQZH?download=1

Ⓜ Tajwid 44
• 8,54 MB durasi (29:50)
�� https://copy.com/h6OvgiHaOlVxZs8k?download=1

Ⓜ Tajwid 45
• 6,18 MB durasi (18:00)
�� https://copy.com/bdC7TUjFDyXtpmRj?download=1

Ⓜ Tajwid 46
• 11,24 MB durasi (32:44)
�� https://copy.com/Q6IGwrubWDuxP2xu?download=1

Ⓜ Tajwid 47
• 8,34 MB durasi (24:17)
�� https://copy.com/OHMFG6ZynJzDml3P?download=1

Read More.. Read more...

Hukum Memakai Cincin Bagi Laki-laki Ditinjau dari Syariat Islam

��BEBERAPA CATATAN TENTANG MEMAKAI CINCIN BAGI LELAKI

Pertanyaan di group WA al-I’tishom yang lalu:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

1⃣Apakah dulu Rasulullah memakai cincin?

2⃣Apakah seorang pria boleh memakai cincin selain cincin emas?

��Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ya, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin.

Beberapa hadits yang menunjukkan hal itu, di antaranya:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin perak di tangan kanannya. Pada cincin itu terdapat mata cincin dari Habasyah. Beliau menjadikan mata cincin itu berada di arah telapak tangan (H.R Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَتَّمُ بِيَمِينِهِ
Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam memakai cincin pada tangan kanannya (H.R anNasaai, dishahihkan al-Albany)

Sebagian riwayat hadits menunjukkan bahwa Nabi memakainya di tangan kanan, sedangkan sebagian riwayat lagi menyatakan bahwa beliau menggunakan tangan kiri. Seperti yang akan disebutkan beberapa riwayat tersebut nanti, InsyaAllah.

Seorang pria boleh memakai cincin, dengan beberapa aturan syar’i di antaranya:

1⃣Bukan cincin terbuat dari emas.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فِي يَدِ رَجُلٍ فَنَزَعَهُ فَطَرَحَهُ وَقَالَ يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ فَقِيلَ لِلرَّجُلِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ قَالَ لَا وَاللَّهِ لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melihat cincin dari emas pada tangan seorang laki-laki. Kemudian Nabi mencabutnya dan membuangnya. Beliau shollallahu alaihi wasallam bersabda: Salah seorang dari kalian memakai bara api di tangannya. Kemudian dikatakan kepada laki-laki itu setelah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pergi: Ambillah cincinmu dan ambil manfaat darinya. Ia berkata: Tidak, demi Allah. Aku tidak akan pernah mengambil sesuatu yang telah dibuang oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (H.R Muslim)

Dulunya, Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah memakai cincin dari emas, namun kemudian beliau membuangnya saat berada di atas mimbar, dan para Sahabat juga membuang cincin mereka yang terbuat dari emas.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَكَانَ يَلْبَسُهُ فَيَجْعَلُ فَصَّهُ فِي بَاطِنِ كَفِّهِ فَصَنَعَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ ثُمَّ إِنَّهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الْخَاتِمَ وَأَجْعَلُ فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ فَرَمَى بِهِ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membuat cincin dari emas. Dulunya beliau memakainya, dan menjadikan mata cincin di perut telapak tangan. Maka para Sahabat membuat cincin-cincin. Kemudian beliau duduk pada mimbar dan mencabut cincin (emasnya) dan berkata: Dulu aku memakai cincin ini dan menjadikan mata cincinnya ada di dalam. Kemudian beliau melemparkan cincin (emas) tersebut dan menyatakan: Demi Allah, aku tidak akan pernah memakainya selamanya. Kemudian para Sahabat juga melemparkan cincin-cincin (emas) mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Dulunya cincin emas boleh dipakai laki-laki, kemudian dihapus hukum itu menjadi haram dipakai oleh laki-laki.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau melarang dari cincin emas (bagi laki-laki, pent)(H.R al-Bukhari dan Muslim)

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

Diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari kalangan umatku dan dihalalkan bagi kaum wanita mereka (H.R Abu Dawud, anNasaai, atTirmidzi, Ibnu Majah. Lafadz sesuai riwayat atTirmidzi, dishahihkan al-Albaniy)

2⃣Bukan cincin pernikahan, yang itu adalah tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir.

Berikut Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:
س: هل يجوز استعمال الخاتم الذي على شكل حلقة بمناسبة الزواج؟
ج: لا يجوز لبس الخاتم بمناسبة الزواج؛ لما في ذلك من مشابهة الكفار في عاداتهم؛ لأن ذلك لم يكن شعارا للمسلمين في الزواج، وإنما هو عادة الكفار في الزواج، ثم قلدهم فيه ضعاف الإيمان، وجهلة المسلمين. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Pertanyaan:
Apakah boleh memakai cincin dengan bentuk melingkar untuk keperluan pernikahan?
Jawaban:
Tidak boleh memakai cincin untuk keperluan pernikahan. Karena yang demikian termasuk penyerupaan dengan orang-orang kafir dalam adat mereka. Dan yang demikian bukanlah syiar kaum muslimin dalam pernikahan. Itu hanyalah adat orang kafir dalam pernikahan, kemudian diikuti oleh orang-orang yang tidak tahu dan lemah iman dari kaum muslimin. Hanya kepada Allahlah kita meminta taufiq, dan semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para Sahabatnya.

(Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah no 5158)

3⃣Memakainya bukan di jari yang terlarang, yaitu jari tengah dan jari telunjuk.

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا

Dari Abu Burdah beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarangku memakai cincin di jari ini dan ini. (Abu Burdah) berkata: Ali memberi isyarat pada jari tengah dan jari setelahnya (telunjuk, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain) (H.R Muslim)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin pada jari kelingking.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Cincin Nabi shollallahu alaihi wasallam dipakai di sini, Anas mengisyaratkan pada jari kelingking di tangan kiri (H.R Muslim)

Kadang Nabi menggunakan cincin di tangan kanan kadang di tangan kiri sebagaimana hadits-hadits di atas.

Al-Imam anNawawi rahimahullah menyatakan:

أجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر ، وأما المرأة فلها التختم في الأصابع كلها

Kaum muslimin telah sepakat bahwa sunnah memakai cincin di jari kelingking pada laki-laki. Sedangkan pada wanita, ia bisa memakai cincin di jari seluruhnya (Syarh Shahih Muslim lin Nawawiy (14/71)).

✏��Catatan tambahan: terdapat perbedaan pendapat para Ulama tentang memakai cincin yang terbuat dari besi bagi laki-laki. Sebagian Ulama menyatakan haram, dan sebagian lagi membolehkan. Di antara yang membolehkan adalah al-Imam anNawawiy, al-Lajnah ad-Daaimah, dan Syaikh Ibn Utsaimin. Mereka berpendapat bahwa memakai cincin dari besi boleh, karena Nabi pernah menyuruh seorang yang akan menikah: Carilah (sebagai mahr) meski itu adalah cincin dari besi (H.R al-Bukhari dan Muslim). Sedangkan hadits-hadits tentang larangan memakai cincin dari besi menurut para Ulama ini haditsnya lemah.

Ada sebagian hadits tentang larangan memakai cincin dari besi bagi laki-laki yang dishahihkan/ dihasankan Syaikh al-Albaniy dalam sebagian karyanya. Di antaranya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَن َّالنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ فَقَالَ : هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرَقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

Dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam melihat pada sebagian Sahabatnya cincin dari emas. Beliau berpaling darinya (menunjukkan kebencian, pent) kemudian Sahabat itu melempar cincin (emas) tersebut. Dan mengambil cincin dari besi kemudian berkata: Ini lebih buruk. Ini adalah perhiasan penduduk anNaar. Kemudian Sahabat itu melemparkan cincin dari besi itu. Kemudian ia memakai cincin dari kertas. Nabi diam (H.R Ahmad dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Aadabuz Zifaaf. Dinyatakan bahwa jalur riwayat itu sanadnya hasan dan ada jalur penguat yang lemah dari riwayat Ibnu Umar. Syaikh al-Albaniy juga menshahihkannya dalam Shahihul Jami’).

Kesimpulan: Memakai cincin besi bagi laki-laki hendaknya dihindari. Hadits tentang perintah Nabi untuk mencari cincin meski dari besi bagi Sahabat yang akan menikah itu, Wallaahu A’lam mengandung kemungkinan untuk dipakai oleh istrinya sebagai mahar, bukan untuk dipakai laki-laki itu.

Ulama yang berpendapat dibencinya cincin besi bagi laki-laki di antaranya adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal, dalam suatu riwayat dari al-Atsram yg bertanya langsung pd beliau.

Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)
������������
WA al-I'tishom

Read More.. Read more...

Daurah Syaikh 16 Agustus 2014, Masjid Shiratal Mustaqim, PT. Jasa Marga, Kebon Nanas - Tangerang

Kamis, 14 Agustus 2014

Bismillah,

Hadirilah dengan mengharap Wajah Allah Ta'alaa

Daurah Masyayikh 2014 Tangerang
Syaikh Dr. Khalid (Kuwait)
Syaikh Dr. Badr bin Muqbil Azh-Zhafiri (Madinah) 
Tema: Kemuliaan
Islam


Penerjemah: 
Al-Ustadz Qomar Su'aidi, Lc.

Di Masjid Shiratal Mustaqim
PT. Jasa Marga, Cikokol Tangerang
Sabtu, 16 Agustus 2014 (20 Syawwal 1435 H)
Pkl. 09:00 - Selesai

Terbuka untuk umum
Muslimin dan Muslimat
GRATIS!!!

إن شاءالله

Read More.. Read more...

Hadits Ke-2 dari 100 Hadits untuk Dihafal

Sabtu, 31 Mei 2014

100 HADITS UNTUK DIHAFAL ��
Hadits ke-2

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

��Hadits Kedua:

Dari Abu Hurairah --(semoga) Allah Ta’ala meridhainya--, beliau berkata, “Seorang lelaki menemui Rasulullah –(semoga) Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau--, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak aku pergauli dengan baik?’. Beliau bersabda, ‘Ibumu.’ Dia berkata, ‘Lalu siapa?’. Beliau bersabda,  ‘Lalu Ibumu.’ Dia berkata, ‘Lalu siapa?’. Beliau bersabda, ‘Lalu Ibumu.’ Dia berkata, ‘Lalu siapa?’. Beliau bersabda, ‘Lalu ayahmu.“ (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

��Abu Bakar Jombang
Thalib Darul Hadits Fiyusy

��WhatsApp Thullab Fiyusy

Read More.. Read more...

Hadits Ke-1 dari 100 Hadits untuk Dihafal

[13:20 11/05/2014] Abu Dawud: ��������������

 PEMBERITAHUAN:

Dikarenakan banyak ikhwah yang ingin menghapal �� HADITS UNTUK DIHAFAL, namun banyak di antara mereka juga dituntut mencari ma-isyah, maka insya Allah �� HADITS UNTUK DIHAFAL akan diposting setiap hari senin dan kamis.

Dan perlu diketahui, sengaja penyusun memilihkan hadits ringkas, hanya dari shahabat Abu Hurairah dan Muttafaqun 'Alaihi (Bukhari dan Muslim) saja, agar memudahkan para penghapalnya.

Demikian, dan insya Allah akan kami ulang mulai hadits pertama di hari senin, baarakallahu fiikum. Adapun hari selainnya akan kami isi dengan hadits-hadits pilihan tentang ar-riqaq (melembutkan qalbu).

Jazakumullahu khair atas perhatiannya.

��������������
100 HADITS UNTUK DIHAFAL ��
Hadits ke-1

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ قَالَ:"كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ ". مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

��Hadits pertama:

Dari Abu Hurairah --semoga Allah Ta’ala meridhainya--, beliau berkata:
“Nabi --semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga dan para shahabatnya-- bersabda, ‘Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ
Aku menyucikan Allah lagi memuji-Nya dan aku menyucikan Allah Dzat Yang Mahaagung.”  (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

��Abu Bakar Jombang
Thalib Darul Hadits Fiyusy

�� WhatsApp Thullab Fiyusy

Read More.. Read more...

SUAMI WANITA DI JANNAH

SUAMI WANITA DI JANNAH

[Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah]

Soal: Jika seorang wanita memiliki dua suami di dunia, dengan siapa dia bersanding nantinya? Dan kenapa Allah hanya menyebutkan istri untuk laki-laki tanpa menyebut suami untuk wanita (sebagai balasan di jannah, pen.)?

Jawab: Jika di dunia seorang wanita memiliki dua suami, nanti di hari kiamat dia memilih di antara keduanya di jannah. Jika seorang wanita belum menikah di dunia, di jannah Allah akan menikahkannya dengan pria yang akan menyejukkan matanya. Karena kenikmatan yang ada di jannah tak dibatasi untuk kaum lelaki saja, melainkan untuk kaum lelaki, juga kaum wanita. Dan termasuk bentuk kenikmatan adalah menikah.

Adapun ucapan sang penanya, "Sesungguhnya Allah taala menyebutkan bidadari-bidadari, dan mereka adalah para istri. Dan tidak menyebutkan suami untuk kaum wanita."

Maka kami jawab, disebutkannya bidadari untuk kaum lelaki karena laki-laki adalah yang mencari. Dialah yang berjuang untuk wanita. Itulah mengapa yang disebut hanyalah istri untuk kaum lelaki, dan tidak disebutkan suami untuk kaum wanita. Namun bukan berarti kaum wanita tidak memiliki suami. Bahkan mereka memiliki suami dari kalangan bani Adam.

(( Fatawa Aqidah lil 'Utsaimin:129 ))

Read More.. Read more...

〰AL-A'MASY DAN MUHADDITS GADUNGAN

〰AL-A'MASY DAN MUHADDITS GADUNGAN

Hari itu, seorang paruh baya tiba di kota Bashrah. Entah ada sebuah keperluan atau hanya singgah di kota tersebut, ia masuk sebuah masjid. Di masjid, pandangannya tertuju pada kerumunan majlis taklim. Orang-orang berdesak-desakan mengerumuni seseorang, sepertinya seorang 'ulama kondang kota ini. Pikiran mereka fokus, menyimak untaian-untaian kata yang keluar dari bibir sang syaikh.

Mungkin pemandangan seperti ini pemandangan yang sudah biasa di zaman tabi'in, di manapun negrinya. Di Madinah, Mekah, Bashrah, Kufah, Baghdad, Mesir atau negri lainnya. Namun orang tua asing tadi memandangnya dengan tatapan berbeda. Pandangannya seolah menandakan majlis tersebut lain daripada yang lain. Ia berusaha memperhatikan, mendengar dan menyimak majlis itu. Ia seperti ingin meyakinkan suatu hal.

"Haddatsana al-A'masy 'an Abi Ishaq! Telah memberikan hadits kepada kami al 'A'masy, beliau mendapatkannya dari Abu Ishaq! Haddatsana al-A'masy 'an Abi Waail! Telah memberikan hadits kepada kami al-A'masy, dari Abu Waail!" kata sang syaikh dengan suara lantang.

Berbeda dengan seluruh hadirin majlis, orang tua tadi bukannya senang dibacakan sebuah hadits, malah kata-kata itu membuatnya seperti tersengat lebah. Atau kata-kata itu bagaikan dentuman peluru yang meluluh lantakkan qalbunya. Kecewa, marah, sedih, semua bercampur jadi satu dalam cawan batinnya. Dia geram, ingin melakukan sesuatu kepada majlis tersebut untuk mengobati kekecewaannya. Segera dia masuk ke tengah majlis, duduk dan tiba-tiba mencabuti bulu ketiaknya. Aneh, namun dia ingin melepas kekecewaan dan amarahnya. Helai demi helai si orang tua mencabut bulu ketiaknya dengan ekspresi tanpa beban. Seolah ia telah melupakan kekecewaan dan amarahnya. Ia tak ambil pusing dengan muka sang syaikh yang nampak marah melihat perbuatannya. Kepala sang syaikh seakan berasap, mendidih dan siap meledak. Meletup-letup dan akhirnya benar-benar meledak, "Hei, orang tua! Apakah kau tidak malu!? Kita dalam pengajian, engkau malah berbuat seperti itu."

"Apa peduli ku!? Toh apa yang ku lakukan lebih baik ketimbang perbuatanmu!" jawab orang tua ketus.

"Maksudmu?" sang syaikh terjebak dalam ketidak mengertian.

"Aku melakukan amalan sunnah, sedangkan engkau? Engkau berdusta. Akulah al-A'masy. Aku sama sekali tidak pernah memberimu sebuah hadits!!" sahut al-A'masy.

Dum.! Melihat sebuah dusta terbongkar, qalbu para hadirin bagaikan benteng byzantium yang dibombardir pasukan Muhammad Al Fatih dalam penaklukan Costantinopel. Mereka kecewa. Serta merta mereka meninggalkan syaikh gadungan dan berkumpul di sekitar al A'masy.

<< Al-Hawadits wal Bida' >>

Read More.. Read more...

HUKUM BERBICARA SAAT KHUTBAH, KARENA KHATIB YANG TIDAK SYAR'I

Minggu, 25 Mei 2014

HUKUM BERBICARA SAAT KHUTBAH, KARENA KHATIB YANG TIDAK SYAR'I

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah ditanya:
Apa hukum orang yang menjadikan khutbah jum'at sebagai ajang menyebar berita , apakah wajib didengarkan dan diam?

Beliau rahimahullah menjawab:
"Tidak wajib diam untuk mendengarnya, jika dia menjadikan khutbah jum'at hanya untuk menyebar berita. telah diriwayatkan bahwa Ibrahim An- Nakha'i رحمه الله bersama sekelompok orang  berbincang-bincang pada saat Bani Umayyah berkhotbah, apabila mereka diingkari maka ia menjawab: sebab Allah azza wajalla, berfirman:

 وَإِذَا قُرِىءَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Apabila dibacakan kepada kalian maka simaklah dan diamlah, semoga kalian mendapatkan rahmat."
Allah Allah azza wajalla, juga berfirman:

{ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ }
"Wahai orang- orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari jum'at maka bersegeralah kalian menuju dzikrullah dan tinggalkan jual beli."

Maka apabila keadaan khutbahnya seperti penyebaran berita, kosong dari firman Allah Allah azza wajalla,  dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadi pendukung kebatilan, dan ahlul batil tidak wajib disimak ucapannya dan tidak didengarkan, dan boleh baginya berbicara.

Adapun jika khatib ingin menyampaikan satu pembahasan tertentu untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, dan bukan dari hawa nafsu, maka tidak mengapa dia menyampaikan bahasan tersebut. Wallahul musta'an.
Kalian telah mendengarkan firman Allah Allah azza wajalla:

{ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ }
"Wahai orang- orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari jum'at maka bersegeralah kalian menuju dzikrullah dan tinggalkan jual beli."
 
Sumber:
✅ (http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2972)

✅ http://salafybpp.com/index.php/nasehat/209-allah-azza-wajalla

WA-TIS (Thalab Ilmu Syar'i)


Read More.. Read more...

Hukum Arisan dalam Pandangan Islam

Rabu, 16 April 2014

Apa hukum arisan?

Oleh :  Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini hafizhahullaah

a hukum arisanArisan dikenal oleh sebagian orang  Arab dengan istilah jam’iyyah (kumpulan peserta arisan). Ini termasuk masalah kontemporer yang tengah marak ditekuni oleh banyak kaum muslimin mengingat manfaat yang mereka rasakan darinya. Masalah ini diperselisihkan oleh ulama ahli fatwa masa kini.

1. Ada yang berpendapat haram.

Al-‘Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah berfatwa, “Ini dinamakan pengutangan di antara sekumpulan orang (arisan) dan perkara ini kehalalannya diragukan. Sebab, arisan adalah piutang dengan syarat adanya timbal balik dengan diutangi pula dan termasuk piutang yang menarik manfaat. Karena dua alasan tersebut, arisan haram.
Read More.. Read more...

Berbagi Faedah di Atas Sunnah

‎ ‎طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi |

Menceritakan Bahagianya Berkeluarga

Sunniy Salafy

Al-HUJJAH

Nikah Muda Yuk...

Entri Populer

Belajar Internet Marketing Profesional

Belajar Internet Marketing Profesional
Internet Marketing Center

Milis Salafi Indonesia

Radio Ad-Diin Tangerang | http://103.28.148.18:8188/listen.pls

Kembali ke ATAS